REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan tidak ada delegasi pengurus MUI di
iklan 'Miss World 2013' yang ditayangkan di stasiun televisi swasta RCTI.
Ketua MUI, KH Ma'ruf Amin,
menegaskan munculnya iklan 'Miss World 2013' yang menampilkan komentar Wakil
Ketua MUI, Syarif Rahmat, adalah inisiatif personal dirinya, tidak membawa nama
MUI.
"Keputusan
MUI melalui rapat dari para ulama sudah sepakat kami menolak dan sama sekali
tidak menyetujui ajang kontes kecantikan Miss World itu digelar di
Indonesia," kata Ma'ruf ketika dihubungi Republika, Senin (26/8).
Menurut dia, munculnya iklan
'Miss World 2013' yang mengambil komentar-komentar tokoh-tokoh nasional
termasuk pengurus MUI untuk memuluskan pelaksanaan ajang itu. Sama sekali tidak
memengaruhi keputusan MUI untuk menolak ajang Miss World itu.
Dalam Konferensi pers sebelumnya,
MUI telah tegas menyatakan penolakan penyelenggaraan kontes kecantikan Miss
World di Indonesia. Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri, Muhyiddin Junaidi
mengungkapkan, penolakan ini setelah dilakukan kajian secara seksama mengenai
adanya pro-kontra penyelenggaraan pemilihan Miss World 2013.
"MUI pun menyatakan
penolakannya terhadap kontes itu," ujarnya. Muhyiddin menimbang
berdasarkan beberapa pertimbangan yang didasari pada dalil Alquran, terutama
surat Al Ahzab ayat 50 yang memerintahkan para perempuan untuk mengenakan
jilbab.
"Kemudian, berbagai hadis
juga menyebutkan aurat harus ditutup rapat kecuali telapak tangan dan
muka," tegasnya.
Penolakan Miss World 2013 pun
terus bermunculan, setelah MUI dan FPI yang mengungkapkan ketegasannya menolak.
Kali ini pernyataan juga datang dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).
Dalam rilisnya, Sekjen IPM, Fajar
Febriansyah beralasan ajang kecantikan wanita tidak bisa hanya dilihat dari
fisik serta paras semata. Karena kecantikan juga hadir dari intelektual, hati
daniman seorang wanita. Maka dari alasan itulah kecantikan tidak perlu
dipertontonkan dan diperlombakan.
"Wanita bagi kami adalah
seperti sosok Ibu, kehormatan bangsa. Tidak untuk dipertontonkan dan
diperlombakan. Sudah saatnya menjaga martabat bangsa," ujarnya.
Fajar menambahkan, digelarnya
ajang ini bisa menjadi contoh buruk bagi generasi penerus bangsa selanjutnya.
Karena itu, ia meminta pemerintah lebih arif untuk tidak memberikan izinkan
kontes kecantikan ini.
by, amicitia
by, amicitia





0 komentar:
Posting Komentar